Hubungi Customer Service Kami Di +62 (022)-8752-3567

Metal Detector M-66 & M-97 by Fisher Research / Alat Pendeteksi Logam

Metal Detector
Metal Detector M-66
Metal Detector M-97

Sejarah dan Perkembangan Penemuan Metal Detector

Metal detector adalah alat pendeteksi logam. Alat ini mampu mendeteksi keberadaan logam di sekitarnya bahkan di tempat tersembunyi, atau terkubur di dalam tanah. Di dalam mesin pendeteksi terdapat sensor yang mampu menyelam ke dalam tanah maupun objek lain. Jika sensor mendeteksi keberadaan metal, akan terdengar bunyi tertentu sebagai tanda atau sejenis jarum akan bergerak ke indikator.

  • Sejarah dan Perkembangannya

Sekitar akhir abad ke 19, banyak cendekiawan dan teknisi memanfaatkan pengetahuannya tentang teori elektrik untuk menemukan mesin yang dapat mendeteksi metal / logam. Pada saat itu, mesin yang sudah tercipta menggunakan terlalu banyak tenaga baterai, dan bekerja hanya dalam suhu limit.

Tahun 1874, seorang inventor Persia bernama Gustave Trouve mengembangkan alat untuk menemukan dan mengekstraksi objek logam seperti peluru pada tubuh manusia. Terinspirasi dari Trouve, Alexander Graham Bell mengembangkan alat serupa untuk mencoba menemukan peluru yang bersarang di dada Presiden Amerika, James Garfield, pada tahun 1881. Alat pendeteksi logam bekerja dengan baik, namun percobaan itu gagal karena tempat tidur presiden terdapat pegas logam. Jadi, hasilnya sedikit membingungkan.

  • Perkembangan Modern

Perkembangan metal detector dimulai tahun 1920. Gerhard Fischer telah mengembangkan system of radio direction finding yang mana digunakan untuk menemukan navigasi atau arah yang tepat. Sistem berjalan dengan mulus, tetapi dia menemukan kejanggalan ketika area dipenuhi batu. Dia berpendapat bahwa apabila sorotan radio bisa terdistorsi oleh logam, maka ada kemungkinan untuk mendesain mesin yang mampu mendeteksi logam menggunakan koil pencarian beresonansi pada frekuensi radio.

Lalu tahun 1925 dia mengajukan hak paten untuk alat pendeteksi metal. Hasilnya, langsung diputuskan bahwa Gerhard Fischer merupakan orang pertama penemu metal detector. Meskipun sebenarnya orang pertama yang mengajukan aplikasi paten adalah Shirl Herr, seorang pebisnis dari Crawfordsville, Indiana. Proposal pengajuannya untuk hand-held Hidden-metal Detector diisi pada Februari 1924, dan baru terpatenkan 4 tahun kemudian, yaitu 1928. Alhasil, Fischer lebih dulu mendapatkan hak paten.

Herr membantu pemimpin Italia, Benito Mussolini dalam memulihkan barang-barang yang tersisa dari galeri Emperor Caligula di dasar Danau Nemi Italia, pada Agustus 1929. Penemuan Herr ini juga pernah digunakan oleh Ekspedisi Antartika Kedua Laksamana Richard Byrd tahun 1933. Alat ini dipakai untuk menemukan benda yang ditinggal oleh penjelajah sebelumnya. Keefektifan alat pendeteksi ini mencapai kedalaman 8 kaki.

Alat Pendeteksi Logam

  • Penyempurnaan Lebih Lanjut

Produk ini banyak dibuat sesuai dengan ide masing-masing produsen. White Electronics of Oregon memulai pada tahun 1950-an dengan membangun mesin dinamakan Oremaster Geiger Counter. Pemimpin lain dalam teknologi detector adalah Charles Garret yang mempelopori mesin BFO (Beat Frequency Oscillator). Berdasarkan penemuan dan pengembangan pada tahun 1950-an dan 1960-an, pembuat dan desainer metal detector memproduksi mesin jadi lebih kecil dan ringan, hanya membutuhkan sedikit tenaga baterai.

Model alat pendeteksi di era modern perhitungannya sangat matang. Menggunakan teknologi sirkuit terintegrasi agar memudahkan pengguna dalam mengatur sensitivitas, diskriminasi, kecepatan, volume ambang, notch filter, dan sebagainya. Dibanding penemuan detector satu dekade lalu, masa kini lebih ringan, lebih mendalam, menggunakan sedikit power baterai, dan lebih terdiskriminasi. metal detector biasanya digunakan oleh arkeolog dan pencari harta karun untuk menemukan barang logam, seperti koin, peluru, perhiasan, dan artifak lain yang terkubur dalam.

  • Diskriminator

Perubahan teknis terbesar pada detektor adalah pengembangan sistem induksi-balance. Sistem ini melibatkan dua kumparan yang secara elektrik seimbang. Namun ketika dua kumparan ini sudah bertemu logam, maka akan menjadi tidak seimbang. Terdapat fakta bahwa setiap logam memiliki fase respon yang berbeda ketika terkena arus bolak balik. Para ilmuwan sudah lama mengetahui hal ini, saat detektor dikembangkan yang secara selektif dapat mendeteksi logam yang diinginkan, sementara mengabaikan yang tidak diinginkan.

Bahkan dengan diskriminator pun masih sulit menghindari logam yang tidak diinginkan, karena beberapa dari mereka mempunyai fase respon yang mirip, seperti kertas timah dan emas. Dengan demikian, menyelaraskan logam tertentu dengan cara tidak wajar dapat meningkatkan resiko terlewatkannya temuan berharga. Kelemahan lain dari diskriminator ialah mengurangi sensitivitas mesin.

  • Desain Baru Coil

Desainer coil juga mencoba inovasi desain lain. Balance coil system (sistem keseimbangan kumparan) yang asli terdiri dari dua coil identik yang terletak atas-bawah. Compass Electronic memproduksi  desain baru: dua koil dalam bentuk D terpasang saling membelakangi agar membentuk lingkaran. Sistem ini dipakai secara luas pada tahun 1970-an. Perkembangan lainnya ialah penemuan detector yang dapat membatalkan efek mineralisasi dalam tanah. Hal ini memberikan kemajuan yang lebih besar, namun dalam mode non-discriminate.

Metal Detector Coil

Desain baru ini bekerja maksimal pada frekuensi rendah dan frekuensi 3 sampai 20 kHz adalah hasil terbaik. Kebanyakan detektor tahun 1970-an memakai desain yang dapat mengganti antara mode diskriminasi dan non diskriminasi. Ukuran kumparan (coil) dapat membatasi atau mengoptimisasi ukuran target. Coil yang kecil pada umumnya bisa mengangkat target objek kecil secara lebih baik dari pada coil yang lebih besar.

  • Induksi Pulsa (Pulse Induction)

Pada saat yang sama, pihak pengembang mendeteksi logam dengan menggunakan teknik berbeda, yaitu pulse induction. Berbeda dengan oskilator frekuensi detak atau mesin keseimbangan induksi, yang mana keduanya menggunakan arus bolak balik yang sama pada frekuensi rendah. Mesin induksi pulsa secara sederhana memagnetisasi tanah dengan kekuatan yang relatif kuat melalui koil pencarian.

Dengan ketidakhadiran logam, tanah membusuk pada tingkat yang seragam dan ketika turun ke posisi nol volt dapat diukur secara akurat. Namun, apabila terdapat logam saat mesin dinyalakan, arus kecil akan diinduksi ke logam dan waktu untuk peluruhan arus akan meningkat. Perbedaan waktunya hanya hitungan menit, tapi peningkatan dalam elektronik membuatnya mungkin untuk mengukur secara akurat dan mengidentifikasi kehadiran logam pada jarak yang masuk akal.

Mesin baru ini mempunyai satu keuntungan besar. Sebagian besar tahan terhadap efek mineralisasi, dan cincin maupun perhiasan lain dapat ditemukan dalam pasir hitam bermineral tinggi. Selain itu, penambahan kontrol komputer dan pemrosesan sinyal digital telah meningkatkan sensor pulse induction.

Keuntungan memakai detektor PI termasuk kemampuan untuk menembus tanah bermineral berat, dalam beberapa kasus, kandungan mineral berat kemungkinan dapat membantu fungsi detektor PI menjadi lebih baik. Ketika detektor VLF biasanya terpengaruh secara negatif, PI tidak.

  • Arkeologi

Metal Detector

Pendeteksi logam paling sering dipakai dalam bidang arkeologi. Alat ini pertama kali digunakan oleh Don Rickey pada tahun 1958. Bagaimanapun, arkeolog melawan penggunaan pendeteksi logam oleh pencari artifak karena arkeolog takut mereka akan merusak situs / tempat arkeologi. Situs bersejarah harus dirawat dan dijaga dengan baik agar jejak sejarah tidak hilang. Pemakaian metal detector memang harus diperhatikan supaya tidak dipergunakan secara sembarangan dan tidak bertanggungjawab.